top of page

Wanita Akhir Zaman

  • Aug 14, 2017
  • 3 min read

prolog

Malam ini terasa begitu lengang, sepi, bahkan bisa di bilang mencekam. Tidak ada bulan maupun bintang yang menghiasi langit seperti malam-malam sebelumnya,”apa akan terjadi bencana alam?” bisik batinku. malam ini seakan mengerti bahwa kehidupankupun akan berubah haluan, dari aku yang selalu tersenyum tegar menjadi aku yang akan selalu menangis terisak.

“dek” kata mas Rifa’i memecah keheningan

“iya mas” jawabku singkat sambil melihat ke arah cermin di depanku yang dapat memperlihatkan wajah mas Rifa’i yang sedang duduk di tepi spring bed berukuran king size itu.

“sini sebentar”

Karna sedang mengoleskan minyak zaitun pada rambut dan wajahku, Aku jadi sedikit tidak fokus dengan perkataan mas Rifa’i yang hanya terdengar seperti gumaman kecil di telingaku.

“dek, sini sebentar” ulang mas Rifa’i dengan nada suara yang sedikit dikeraskan.

merasa ada yang aneh pada nada suara mas Rifa’i, akupun langsung berbalik arah untuk melihat wajahnya, ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Namun sepertinya aku salah, ada raut kegelisahan disana, di wajah teduhnya.

“ada apa mas?” tanyaku yang masih tidak beranjak dari depan cermin yang saat ini sedang ku punggungi.

dia menepuk-nepuk tepi spring bed yang berada persis di sampingnya, seperti berkata “duduklah di sini” Aku yang menyadari hal itu langsung meletakkan perlengkapan ritual malamku di tempatnya semula, dan bergegas ke arah bekas tepukannya tadi, tepat di sampingnya. setelah aku duduk, dia tidak langsung berbicara. Dia hanya menggenggam erat jemariku, sambil menatap manik mataku dalam, seakan mencari kekuatan di sana, aku yang di tatap seperti itu hanya bisa menelan ludahku yang tiba-tiba saja terasa tercekat di tenggorokan. dan jujur, tatapannya selalu saja dapat mengunci diriku, membuatku tidak dapat bergerak.

“ada yang ingin aku bicarakan” ucapnya dengan tatapan mata yang masih mengunci diriku.

“katakan saja mas, aku akan siap mendengarnya” kataku sambil mengeratkan genggaman jemari kami yang sedang bertautan, meyakinkan mas Rifa’i bahwa aku benar-benar siap. entah mengapa, aku merasa mas Rifa’i akan mengatakan hal yang mungkin akan sedikit tidak enak di dengar, mengecewakan.

“maafkan aku, Ca, kamu tidak akan siap mendengarnya” ucap mas Rifa’i yang tiba-tiba saja menundukkan kepalanya.

Aneh rasanya, baru kali ini aku melihat mas Rifa’i menundukkan kepala saat berbicara denganku. Biasanya dia akan to the point jika ingin berbicara, dan selalu memandangku bagaimanapun keadaannya.

“hei mas, apa yang kamu lakukan” ucapku lembut sambil memegang pipinya agar kembali lagi menatapku. Oh astaga.! Matanya memerah, seperti menahan air mata.

“mata mas merah” ucapku yang spontan mengusap pelan matanya dengan kedua ibu jariku.

“Ya Allah, ada apa dengan mas Fa’iku” teriak batinku. Aku terkejut ketika tiba-tiba dia telah menarikku ke dalam dekapannya, dekapan yang sangat erat dan aneh, seperti dekapan perpisahan. cepat-cepat ku gelengkan kepalaku saat menyadari fikiranku yang sedang eror itu, “kami tak akan berpisah” seloroh batinku. setelah tersadar dari keterkejutanku, akupun langsung membalas dekapannya, dan sesekali mengusap punggung laki-laki yang sudah mendiami hatiku dan menemani hidupku selama 2 tahun belakangan ini.

“mama, Ca”

“mama.? Ada apa dengan mama mas.?” Tanyaku penasaran. Perasaanku mendadak tidak enak, apakah terjadi sesuatu yang buruk pada mertuaku yang selalu ku panggil dengan sebutan mama itu.?

“mama menyuruhku berpoligami, Ca”

JEDUAAR!!

apakah duniaku telah hancur?. seperti mendengar ledakan bom yang terpasang di badanku sendiri, mati rasa. Aku memang tidak terlalu dekat dengan mama mertuaku, tapi mama tidak akan memperlakukanku se kejam ini bukan?. Dan mamapun pastinya tau bahwa aku sangat anti dengan kata “poligami”. Mendengar ucapan mas Rifa’i yang juga menyiratkan kekecewaan, membuatku tak lagi dapat berkata apa-apa, badanku lemas seketika,tanganku yang tadinya memeluk erat mas Rifa’i pun kini sudah terjatuh di kedua sisi tubuhku. ”cobaan apa lagi ini ya Allah?” tangis batinku.

“a-apakah m-mas menyetujuinya.?” Tanyaku terbata dengan tenaga yang sedikit tersisa.

aku tidak mendangar jawaban dari bibir suamiku, tapi aku merasakannya. Ya, aku merasa dia mengangguk tepat di lekukan leherku. kali ini aku tidak dapat lagi mempertahankan ketegaran hatiku yang selalu ku junjung tinggi, air mata yang sedari tadi hanya ku jeritkan di dalam hati, kini tak bisa lagi ku bendung. tangisku pecah, walau tanpa suara. dalam dekapan suamiku dan dalam getar hati yang menjalar ke seluruh tubuhku.

kami,aku dan suamiku. Hanya bisa saling menguatkan dalam dekapan. dan akupun merasakan air matanya yang mulai membasahi bahu kiriku. Tak berapa lama setelah itu, aku merasakan nyeri di daerah kepalaku dan juga cahaya yang meredup secara perlahan menyisakan warna gelap yang menggiringku ke alam bawah sadar. apakah aku masih mempunyai nyali untuk bangun?. Entahlah, ku harap aku takkan pernah terbangun lagi.

Comments


RECENT POSTS:
SEARCH BY TAGS:

© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

  • b-facebook
  • Twitter Round
  • Instagram Black Round
bottom of page