Sajak Kontradiksi “Menyambut HUT RI”
- Aug 15, 2017
- 2 min read
Katanya,
Padamu Negeri Kami Berjanji
Tapi, Padamu Negeri Kami Menginkari
Katanya,
Padamu Negeri Kami Berbakti
Tapi, Padamu Negeri Kami pun Menyekutui
Katanya,
Padamu Negeri Kami Mengabdi
Tapi, Padamu Negeri Kami pun Mendustai
Katanya,
Padamu Negeri Jiwa Raga Kami
Tapi, nyatanya Raga Kami bukan Jiwa Kami.
Mak : “ Kamu menyindir orang orang birokrasi yaa, nak “
Aku : “ ah, ngapain juga mak menyindir mereka, aku sendiri belum tau pasti kehidupan mereka, pun aku sendiri belum tentu sebaik mereka “
Mak : “ lantas ? “
Aku : sambil menyuruput secangkir kopi buatannya “ lihat saja pemuda pemudi sekarang mak ! mereka yang berlagu nasionalis, tapi kelauan mereka tidak mencermikan seorang nasionalis. Selalu ikut ikutan pas ada isu isu kenegaraan lah apa lah, ikut mencetus menghujat padahal itu hanya wacana praktis yang belum tentu kebenarannya. Tidak hanya itu, perkembangan zaman juga ikut mempengaruhi kehidupan mereka. Dengan dalih biar gaul lah hits lah, mereka tidak memperhatikan kerugian yang didapatkan. Padahal itu semua juga merugikan diri sendiri dan orang orang sekitar juga. Budaya nasional terkikis oleh hal itu.
Mak : “ Kamu ini ngomong apa, mak saja tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah hingga tamat kamu critain kaya gitu. “
Aku : “ Ini bukan soal tamat sekolah atau tidak mak. Orang sudah campur jadi satu, sulit juga membedakan mana yang tamat sekolah mana yang tidak “
Mak : “ Wah koyo es campur kalau begitu ? “
Aku : “ EHHH, mak ini diajak serius malah canda. Kalau kata Bung Karno yaa mak,
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.“
Mak : “ terus maksudmu, gimana menghargai jasa para pahlawan itu “
Aku : “ Gampang mak sebenarnya. Disamping kita terus bersosial yang baik tidak mengumbar kebencian saling menghormati antara sesama makhluk, kan juga ada pahlawan zaman sekarang. Guru itu juga pahlawan lo mak. Menghormati guru juga merupakan atas semua itu.
Tapi sayangnya mak, semua itu hampir diabaikan, kehidupan materialistik anak muda sampai orang dewasa telah melekat pada diri mereka. Hal itu menyebabkan hilangnya kesadaran sosial. Yang ada hanya jasa yang dituntut atas pekerjaan, miris melihat itu semua. Mereka tidak percaya dengan sebatas senyum keindahan yang diberikan.

Mak : “ Perkataanmu bener juga yaa, le “
Aku : “ yah, tapi juga tidak semua seperti itu mak. Juga masih ada sebagian mereka yang memahami petak pemahaman seperti itu. Intinya berbuat sekecil apapun itu juga berakibat besar bagi negeri ini mak. Makna dari sajak terakhir itu aku gambarkan orang yang hanya bersifat individualistik, yang hanya menumpang di negeri ini. HANYA MENUMPANG RAGANYA BUKAN JIWANYA.
Mak : “ satu lagi nak, mbahmu juga pernah bilang dulu.
Katanya “ Kalau tidak mampu memperbaiki jangan merusak, kalau tidak mau memuji jangan menghujat dan kalau tidak mampu berbuat baik jangan berbuat buruk”
Aku : “iya, begitulah mak kurang lebih.” Sambil menghabiskan secangkir kopinya

Comments