PENJAJAHAN IDEOLOGI
- Aug 24, 2017
- 2 min read
Pemuda adalah generasi penerus estafet negeri Indonesia tercinta. Segala harapan dan cita-cita bangsa ada dalam benak para pemuda. Pemuda adalah cerminan masa depan bangsa. Pemuda adalah pejuang-pejuang yang akan membuktikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang perkasa. Pemuda memiliki andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Pemuda memiliki posisi dan peranan yang sangat strategis untuk kebebasan rakyat dari penjajahan penuh derita.
Indonesia dengan dasar negara Pancasila telah banyak mengajarkan kami tentang arti sebuah independensi. Banyak menginspirasi kami akan sebuah karakter berdikari. Sebuah karakter yang sebenarnya menjadi ciri dari bangsa ini. Bangsa yang bermartabat dan perkasa bagai garuda yang mengepakkan sayap menatap angkasa.
Ibu pertiwi menangis melihat banyaknya rakyat yang masih menderita. Garuda perkasa terluka mengetahui bahwa masih banyak pemuda generasi penerus bangsa menjadi boneka. Bahkan menjadi domba-domba yang terus digiring kesana kemari hanya untuk kepentingan monopoli.
Retorika yang mempesona. Dialektika pencerahan yang amat mengagumkan. Dua hal tersebut menjadi bungkus akan sebuah pembelokan paradigma. Menjadi kulit dari sebuah pembodohan logika.
Pemuda terkhusus mahasiswa, yang kata mereka adalah agen perubahan, agen intelektual, agen sosial tetapi tiada wujud ril dari orasi-orasi penuh semangat namun nihil esensi.
Kata mereka, mahasiswa adalah agen perubahan. Iya, itu benar. Merubah dan memanipulasi demokrasi menjadi monopoli oligarki. Kata mereka, mahasiswa adalah agen intelektual. Iya, itu benar. Menjadi orang berintelektual lalu membodohi junior-juniornya dengan skenario kolosal. Kata mereka, mahasiswa itu adalah agen sosial. Iya, itu benar juga. Tapi, kebenaran redaksi tak sesuai fakta hakiki. Di mana orang-orang lain yang tidak satu organisasi justru didiskriminasi dan diperlakukan layaknya rival abadi.
Semua hal itu jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam dan Pancasila yang mengajarkan perdamaian, kebersamaan, dan toleransi. Alangkah lucunya bagi mereka yang beretorika dan berdialektika tentang ajaran keagamaan dan nilai-nilai fundamentalis Pancasila namun tetap mengimplementasikan segala hal yang justru jelas bertentangan.
Dengarlah dan ingatlah! Setiap individu memiliki hak untuk merdeka. Setiap jiwa memiliki hak untuk menentukan jalannya. Setiap raga memiliki potensi penuh arti. Dan setiap kepala memiliki otoritas penuh atas ideologi. Janganlah memaksa kami untuk mengikuti jalanmu. Jangan paksa kami untuk mengikuti maumu. Menuruti semua hal yang hanya bertujuan untuk kepentinganmu. Jangan bodohi kami dengan doktrin-doktrin pencerahan penuh kepalsuan. Jangan memberi kami candu akan sebuah kebutaan.
Biarkan kami berdikari. Biarkan kami memilih jalan kami sendiri. Biarkan kami berproses dengan cara kami sendiri. Tak perlu kalian giring kami bagai domba, tetapi ajarkanlah kami bagaimana menjadi singa.

Comments