top of page

REFLEKSI HARI KEMERDEKAAN

  • Aug 24, 2017
  • 3 min read

Tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno membacakan teks proklamasi dihadapan seluruh rakyat Indonesia. Menandakan kemerdekaan bangsa Indonesia yang sekian lama mengalami penjajahan bangsa Asing selama kurang lebih tiga setengah abad lamanya. Dengan semangat juang tinggi dalam memberantas adanya penjajahan akhirnya Indonesia mampu sampai pada titik terang kemerdekaan.

Tepat pada hari ini 17 Agustus 2017 Indonesia berusia 72 tahun. Bak umur manusia yang sudah semakin menua, tetapi semangat dan kegigihannya masih dinilai sangat muda. Hal itu dapat dilihat dengan ekspresi seluruh elemen masyarakat dari yang muda hingga dewasa, beramai ramai memperingati hari kemerdekaan tersebut.

Adat maupun budaya di masing masing daerah memiliki perbedaan dalam mengespresikan kemerdekaan itu. Perlombaan kecil kecilaan di tingkat desa sampai karnaval budaya ikut andil dalam mewarnai hal itu. Tidak lain untuk memperingati jasa para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini merupakan suatu yang sangat penting, meski se

bagian orang mengaggap remeh. Untuk terus memperingati bagaimana perjuangan yang dilakukan untuk mencapai kemerdekaan.

Pergolakan Kemerdekaan

Setelah dibacakannya teks proklamasi yang menandakan telah bebasnya masyarakat Indonesia dari sikap penjajahan dan penindasan, kemerdekaan Indonesia masih mengalami pasang surut pergolakan yang terjadi antara masyarakat. Para pahlawan yang mencoba merumuskan, akan dibawa kemana Indonesia kedepan masih sangat gigih demi terciptanya masyarakat Indonesia yang tentram dan damai. Tidak hanya itu ancaman dari luarpun juga masih mengintai Indonesia saat itu. Teradinya pergolakan pergolakan setelah kemerdekaan tidak luput dari catatan sejarah, artinya cita cita Indonesia untuk mencapai kemerdekaan 100 persen seperti yang dikatakan Tan Malaka belum sampai terpenuhi. Akan tetapi atas kegigihan para pahlawan semua itu dapat terselesaikan.

Indonesia mengalami periode periode pemerintahan yang tidak terlupakan. Semua itu terangkum pada catatan sejarah yang sampai kini masih dapat dikaji oleh masyarakat Indonesia. Periode dalam sejarah setelah kemerdekaan indonesia yang menojol yaitu pada pemerintahan orde baru. Dimana roda kepemimpinan dijalankan oleh Soeharto saat itu. Soeharto yang diklaim sebagai bapak pembangunan, mengalami gejolak yang luar biasa. Kepemimpinannya yang terkenal otoriter membuat ruang gerak atas amanat kemerdekaan seakan akan menyempit. Bukan lagi dari musuh asing yang mengancam akan tetapi dari masyarakat Indonesia sendiri mengalami ketertindasan olehnya.

Selama 32 tahun kepemimpinannya masyarakat Indonesia sedikit demi sedikit merasakan kesengsaraan mulai dari kebebesan dalam bertindak, hilngnya sebagian masyarakat Indonesia yang menurut Soeharto mengancam kepemimpinannya sampai pada puncaknya krisi moneter besar besaran pada tahun 1998 yang mengakibatkan aksi massa luar biasa menuntut akan penurunan Soeharto pada saat itu. Peristiwa tersebut hanya salah satu dari peristiwa peristiwa penting lainnya dalam hal pemaknaan akan kemerdekaan yang sesungguhnya. Semua itu dapat diambil pelajaran untuk tidak terulang kembali sehingga masyarakat dapat merasakan makna kemerdekaan dengan utuh.

Indonesia, Merdeka kah ?

Selama 72 tahun sejarah kemerdekaan telah mencatat berbagai hal tentang bagaimana jalan tersebut dilalui. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari hal itu. Ibarat pepatah mengatakan semakin tinngi pohon menjulang maka semakin kencanglah angin yang berhembus.

Apabila ingin ditelusuri secara mendalam, yang menjadi pertanyaan apakah Indonesia benar benar telah merdeka 100 persen ? Secara dilihat dari suasana ketika zaman penjajahan dan setelahnya memang kemerdekaan sudah dicapai, akan tetapi dalam substansinya 100 persen kemerdekaan masih hanya sebatas wacana. Mungkin apabila dikakulasi kemerdekaan Indonesia masih mencapai 10 persen dalam segala bidang.

Kesadaran kemerdekaan dalam masyarakat hanya terkait dengan suasana, bukan dalam artian luas. Kebanyakan masyarakat Indonesia tidak merasakan penjajahan saat ini. padahal apabila kita mau sedikit menilik bagian bagian Indonesia, seperti sektor ekonomi, budaya, politik telekomunikasi hampir keseluruhan tidak hak penuh atas negara Indonesia. Semua itu ada campur tangan asing. Inilah yang kurang disadari masyarakat Indonesia.

Dalih modernitas dan globalisasi menjadi alart utama untuk mengelabuhi sektor tersebut. Budaya budaya asing mulai disisipkan mulai dari gaya hidup yang ditawarkan, film yang ditayangkan semua itu secara tidak langsung membutakan para masyarakat Indonesia. Objek yang dituju tidak lain para pemuda yang menjadi tonggak penerus bangsa. Mereka kebanyakan enyah akan hal itu, dengan dalih globalisasi semua terpejam bahwa sesungguhnya hal itu alat penjajahan zaman sekarang ini.

Perkonomian Indonesia yang menurunkan jauhnya kesenjangan sosial, sebenarnya merupakan penjajahan pula. Sektor pertambangan, maritim maupun agraria menjadi persoalan dalam bidang ekonomi. Semua masih dikusai bangsa asing. Inilah salah satu kelemahan bangsa Indonesia yang terdapat didalamnya. Negara yang memiliki keayaan yang begitu besar bak tanah surga katanya masih terdepat kelaparan dan kurangnya hal hal lain dalam pemenuhan kebutuhan.

Hendaknya dalam hal ini sebagai para penerus bangsa kita, dapat lebih memilih dan memilah hal hal tersebut. Dengan kesadaran Nasionalisme yang diwujudkan dalam kehidupan, harapannya dapat menyaring hal semacam itu demi terhapusnya penjajahan yang mengakibatkan kesenjeangan yang terjadi diantara masyarakat Indonesia dan terciptanya masyarakat Indonesia yang sejahtera. Siapa lagi kalau bukan kita yang ikut memperjuangkan ?


 
 
 

Comments


RECENT POSTS:
SEARCH BY TAGS:

© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

  • b-facebook
  • Twitter Round
  • Instagram Black Round
bottom of page